Di suatu hari yang panas, ditemani tekad sekuat samson dan cita-cita setinggi tiang listrik , aku datang ke kantor sebuah PTS di Semarang. Intinya sih mau nanya-nanya gimana caranya kalau mau daftar kuliah – ya eyalah…masak mau bikin martabak -. Aku bersama seorang teman, datang dengan pakaian yang sangat santai. Kaos, celana jins dan sandal jepit. Karena anak baru – baru tahu maksudnya – di hari itu semua mahasiswa di PTS itu mengenakan seragam hitam putih, tapi karena kulit muka kami setebal tembok maka dengan cueknya kami tetap melenggang masuk ke kantor ketua jurusan xxxx ( baca: kajur) . Disana banyak sekali mahasiswa yang ngantri untuk dilayani – maap..bagi yang berotak agak kotor dimohon untuk tidak membaca kalimat ini sepotong-sepotong- konsultasi skripsi. Karena kami merasa hanya minta sedikit info, kami merasa sah sah saja untuk ikut ngantri minta dilayani.
Karena diluar panas sangat menyengat maka masuk ke dalam kantor itu merupakan surga dunia, adem dan sejuk. Nikmat sekali pokoknya. Ada beberapa meja yang mengelilingi ruangan itu. Satu meja dihuni oleh bapak kajur yang dikerubungi oleh para mahasiswa, dan dua meja yang lain dikelilingi oleh para ibu dan bapak staff kantor. Melihat ada dua kursi kosong didepan meja bapak kajur -mahasiswa2 yang lain yang menganut asas sopan santun berdiri-, maka aku dan temanku pun langsung duduk, menghela nafas kelelahan, karena harus naik tangga sampai kelantai 4.
Tak disangka, aku mendengar sebuah teriakan seorang wanita yang walaupun aku tak melihat wajahnya, aku bisa membayangkan wajahnya, “Hai kalian manusia bersendal!’”
Aku : ” Siapa mbak?”
Temanku : Geleng-geleng.
Temanku : ” siapa ji? “
Aku : mengangkat bahu.
Aku dan temanku lanjut ngobrol. Terdengar lagi suara yang sama. “Ya kalian!”
Aku dengan tampang tak bersalah , dan memang aku ga merasa salah “Saya bu??”
Si Ibu galak : ” Iya! cepat kalian keluar! Disini gak terima manusia bersendal !”
Aku membela diri dgn jawaban bodoh : ” saya gak tau kalau harus pake sepatu bu, lagipula saya cuma mau nanya kok bu”
” Kamu ga akan dapat jawaban! cepat keluar!!!!”
All of the people in the room stared at us. Embarassing? Of course not. Kan mukaku setebal tembok.
Setelah aku menjadi mahasiswa di PTS itupun kejadianyang hampir sama terulang lagi. Aku dan seorang teman ingin minta tanda tangan pada pak Kajur, pagi-pagi sekali. Waktu kami masuk ruangannya, ternyata pak Kajur gak ada. Yang ada cuma si ibu galak . Sampai sekarang aku gak tahu apa posisi ibu itu di ruangan si Pak Kajur.
Aku : “Permisi Bu, Pak Kajur nya kemana ya bu??
IBu Galak : “Ya kalau gak ada disini ya saya gak tau. Memangnya saya harus ngikutin kemanapun pak Kajur pergi? Saya aja gak tau kemana suami saya. Jadi apa urusan saya harus ngurusin kemana pak Kajur ??
Gubrak…..
Hhhh…sabar…sabar…


Pada suatu hari seorang teman datang mengunjungiku…
Seperti aku dalam gua batu. Gelap. Pengap. Hening. Sunyi.
I can’t believe this for a second. Being 24 is older enough, I think. Biasanya sih cuma ngeliatin ato ndengerin temen2 crita yg udah pada brumur 24 taun, sebagai pendengar sih biasanya aku hanya memposisikan diri sebagai yg lebih muda. sebagai adik. dan rasanya umur 24 tahun itu begitu jauuuuuh….jauuuuuh bgt. Yah bisa dianggap berumur 24 tahun buatku seperti tak mungkin.
Alhamdulillah…