Em…tengah malem begini,mata saya ini belum juga mau mengalah,masih saja melek, padahal sudah kayak engga tidur setahun ( boong banget ji….), sudah bengkak gitu maksudnya,many things that i’ve to think. I hate to thinking actually.But, berpikir menandakan kita hidup bukan??? yah..andaikan saya bisa hidup tanpa harus berpikir apa yg musti saya lakukan besok,seandainya saya seperti semak dipinggir jalan, hari ini dipotong besok juga paling numbuh lagi, seandainya saya seperti tiang listrik, tetap tegak berdiri biarpun dipukul hansip setiap malam, kalau saya seperti burung atau bebek, atau kambing atau kucing, mungkin saya tak harus dipusingkan dengan dimana saya harus ( maap ) buang air esok, hari ini, dan seterusnyah.
Tapi seperti kata teman-teman saya katakan ( yang sudah klasik dan basi ) bahwa hal itulah yang membuat kita berbeda dan tak hanya asal hidup. Dan untuk berpikir itu butuh energi yang sangat besar. Perlu kalori, vitamin dan mineral yang dibutuhkan tubuh ( lo jadi spg susu, ji??? ) em…maksudnya ya perlu tenaga dan kekuatan, padahal sebenarnya saya termasuk orang yang paling malas berpikir. Cukup menyebalkan. Saya lebih senang melakukan hal lain daripada harus berpikir. Kadang-kadang saya jadi bertanya-tanya dalam hati, lantas apa fungsi otak saya ya??? Kadang-kadang, kebuntuan otak ini tercermin saat saya tanpa sadar mengucapkan sesuatu yang tak pada tempatnya. Like this,,,
Teman saya : ” tadi aku nelpon kamu kok ga diangkat?? “
Saya : ” Duh..sori bgt, tadi tasnya di hape, jadi gak kedengeran”
Sejenak saya dan teman saya tadi terdiam..
Saya (sambil nyengir tengsin ) : ” eh maksudku, hapenya di tas..”
Jadi teringat kata seorang teman dulu, ” otakmu ada didengkul kali, ji…”. Kuwrang uajarrr…..beraninya dia mengatakan hal yg sebenarnya didepan saya. huahhaha…saya bloon katanyah…bukan bloon seh..cuma males berpikir aja…
ah sudahlah…sudah ditakdirin Tuhan untuk berpikir,,jadi ya musti berpikir.Apa saja, asal untuk menuju sesuatu yang lebih baik…
ah,, saya dapat tugas baru sekarang….MIKIR …
Entah sejak kapan ketakutan ini dimulai. Yang pasti aku bisa seketika kejang, badanku kaku, bulu kudukku berdiri, dan gemeteran kalau aku ditakdirkan untuk bertatapan muka dengan makhluk yang masih punya hubungan sodara dekat dengan tokek ini. Binatang yang tubuhnya yang pipih, warnanya yang seperti ingus atau upil, abu-abu atau agak kecoklatan, dan matanya yang – menurutku- jelek luar biasa ini . Kemarin, dia mondar mandir di depan pintu kamarku. Melenggak lenggok dengan santai sambil mengibaskan ekornya. Barangkali dia berusaha menarik perhatianku. Sumpah, walaupun menurut kepercayaan orang bali ci*** adalah manifestasi dari dewi saraswati, dewi yang melindungi bacaan dan tulisan, aku tak akan pernah jatuh cinta padanya. Amit-amit cuih….Dan si Gekkonidae ini masih terus memamerkan kejelekan tubuhnya yang gendut, and nobody could help me. Sambil naik keatas tempat tidur, aku menyerangnya dengan berbagai persenjataan yang aku punya. Mulai dari kelas bulu, such as kertas yang di bentuk bola, pensil, pulpen, sampai botol parfum dan botol air minum. Tapi dia masih tak sadar kalau aku jelas-jelas tak menginginkannya menampakkan diri didepanku. Aku jengkel. Perutku sakit. Keadaan emergency. aku harus menuju tempat pembuangan terakhir. Panggilan alam ini gak bisa ditahan-tahan. Demi Tuhan, Mahluk panjang liar ini benar-benar tak tahu diri. Dia masih saja terus menatapku dengan tatapan yang aneh, yang tak dapat kuartikan apa maksudnya. Aku tahu, Tuhan tak pernah tidur dan Dia menyelamatkanku dengan mengirimkan seekor kecoa yang lewat tak jauh dari makhluk sialan itu berada ( see…ini kos-kosan apa kebon binatang?) Kalau hanya seekor kecoa sih tak ada arti apa-apa buatku. Sekali libas, wussssss…..i am the champion. Tapi, ancaman ci*** selalu menghantuiku setiap saat.




