Butuh waktu kurang lebih dua setengah sampai tiga jam menuju kota gudeg itu. Dari semarang, selepas magrib dan ketika hujan reda, baru aku mulai perjalanan. Kalau bukan karena ingin mengunjungi adikku yang memang harus kukunjungi, mungkin aku tak pernah lagi ingin menginjak kota tua itu. Ingin sekali aku berlama-lama dijalan, agar aku tak cepat sampai disana, dan aku sangat bersyukur kalaupun aku tak akan pernah bisa kesana lagi.
Ah, jogja. kota kecil kuno yang begitu indah. Kesahajaan orang-orangnya dan kedamaian disana begitu mempesona. Menghabiskan masa tuaku disana pun aku ingin. tapi sayangnya, aku masih belum bisa berdamai dengan masa laluku. terlalu perih dan menyakitkan. hatiku terlanjur berdarah. Dan darah itu belum jua bisa mengering.
Ketika untuk pertama kalinya setelah sekian lama aku hijrah dari sana, ada perasaan sendu yang meluap-luap. Kenangan-kenangan yang dulu pernah terjadi tiba-tiba muncul seperti sebuah film. Setiap tempat yang pernah aku singgahi seperti hidup dan memanggil-manggil namaku. luka yang tadi berdarah hampir kering, kembali menganga lebar. Oh Gusti…jika kau berikan aku luka disini. kiranya berikan jualah penawarnya disini.
Jogja merupakan sekolah. Dimana aku belajar banyak hal disini. di Jogja kedewasaanku ditempa. di Jogja kesabaranku diuji. di Jogja aku pernah di cintai. Di Jogja aku pernah di sakiti. Di jogja aku pernah menyemai mimpi. Di Jogja jua mimpiku itu meranggas kering. Biarlah jogja yang bisu memendam secuil cerita tentangku. Tanpa harus banyak orang yang tahu. Biarlah hanya langit yang mencatat bahwa setapak kisahku pernah meramaikan rangkaian kehidupan orang-orangnya.
Sekarang waktunya menegakkan kepala. Tarik nafas dalam-dalam. dan aku siap melangkah kesana. Ke Jogja.
Sore-sore datang berkunjung ke blognya temen-temen yang ada di Kalimantan Barat, tetep solid en hidup ngeblog…
Oleh: Dwi Wahyudi on Maret 6, 2009
at 9:33 am