Entah sejak kapan ketakutan ini dimulai. Yang pasti aku bisa seketika kejang, badanku kaku, bulu kudukku berdiri, dan gemeteran kalau aku ditakdirkan untuk bertatapan muka dengan makhluk yang masih punya hubungan sodara dekat dengan tokek ini. Binatang yang tubuhnya yang pipih, warnanya yang seperti ingus atau upil, abu-abu atau agak kecoklatan, dan matanya yang – menurutku- jelek luar biasa ini . Kemarin, dia mondar mandir di depan pintu kamarku. Melenggak lenggok dengan santai sambil mengibaskan ekornya. Barangkali dia berusaha menarik perhatianku. Sumpah, walaupun menurut kepercayaan orang bali ci*** adalah manifestasi dari dewi saraswati, dewi yang melindungi bacaan dan tulisan, aku tak akan pernah jatuh cinta padanya. Amit-amit cuih….Dan si Gekkonidae ini masih terus memamerkan kejelekan tubuhnya yang gendut, and nobody could help me. Sambil naik keatas tempat tidur, aku menyerangnya dengan berbagai persenjataan yang aku punya. Mulai dari kelas bulu, such as kertas yang di bentuk bola, pensil, pulpen, sampai botol parfum dan botol air minum. Tapi dia masih tak sadar kalau aku jelas-jelas tak menginginkannya menampakkan diri didepanku. Aku jengkel. Perutku sakit. Keadaan emergency. aku harus menuju tempat pembuangan terakhir. Panggilan alam ini gak bisa ditahan-tahan. Demi Tuhan, Mahluk panjang liar ini benar-benar tak tahu diri. Dia masih saja terus menatapku dengan tatapan yang aneh, yang tak dapat kuartikan apa maksudnya. Aku tahu, Tuhan tak pernah tidur dan Dia menyelamatkanku dengan mengirimkan seekor kecoa yang lewat tak jauh dari makhluk sialan itu berada ( see…ini kos-kosan apa kebon binatang?) Kalau hanya seekor kecoa sih tak ada arti apa-apa buatku. Sekali libas, wussssss…..i am the champion. Tapi, ancaman ci*** selalu menghantuiku setiap saat.
Hhh..Semoga Tuhan slalu melindungiku…
NB: Di postingan ini aku gak akan memasukkan gambar si pelaku. Dan nama pelaku disamarkan demi kemanusiaan.






